Jumat, 12 Oktober 2012

Mbah Marijan di Mata Antonio Gramsci

Tentu semua orang mengenal sosok Mbah Marijan, seorang  pemberani yang berasal dari gunung merapi. Ia menjadi juru kunci gunung merapi (kuncen merapi) selama berpuluh-puluh tahun dan menetap di bawah lereng gunung tersebut. Sejak dilantik sebagai kuncen merapi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mbah Marijan begitu setia “menjaga” gunung merapi sehingga ia pun sangat dihormati oleh seluruh penduduk setempat.

Mbah Marijan sangat dipercaya oleh penduduk sekitarnya. Pengaruhnya terhadap penduduk lereng Merapi sangat kuat. Jauh lebih kuat dari pada pengaruh negara maupun kesultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan suatu ketika, saat pemerintah Indonesia menetapkan status gunung merapi menjadi “awas” di akhir Oktober 2010, yang hal itu mengharuskan seluruh penduduk lereng gunung merapi diperintahkan untuk mengungsi ke tempat lain, mereka justru dengan tegas menolak untuk mengungsi lantaran mbah Marijan “bersabda” bahwa merapi tidak akan meletus saat itu.

Pemerintah yang tidak mau mengambil resiko akan keselamatan penduduk setempat bahkan harus meminta bantuan khusus dari Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk “membujuk” mbah Marijan agar mau mencabut sabdanya dan bersedia mengajak penduduk setempat untuk mengungsi. Sultan mengeluarkan “sabda” tandingan agar penduduk mau segera mengungsi ke tempat yang aman. Namun “sabda” Sultan pun kalah kuat dengan “sabda” mbah Marijan. Sultan pun coba menggunakan berbagai pendekatan kepada mbah Marijan agar dapat memberikan pemahan bahwa Merapi akan segera meletus dan seluruh penduduk lereng gunung harus mengungsi.

Namun apa yang terjadi? Dengan tegas mbah Marijan menolak permintaan Sultan HB X untuk meninggalkan tempat di mana ia mengabdi sebagai kuncen Merapi. Mbah marijan bahkan berujar, ia akan turun bila Sultan HB IX yang memerintahkannya. Ia menegaskan bahwa ia hanya menuruti perintah Sultan HB IX, karena beliaulah yang mengangkatnya dulu sebagai kuncen merapi, bukan Sultan HB X. Sebuah sikap penentangan terhadap seorang raja yang amat terpandang di tanah Jawa.

Lalu apa urusannya sosok Mbah Marijan yang fenomenal dengan Antonio Gramsci seorang tokoh Marxis dari Italia ini? Inilah yang akan coba dielaborasikan segera.

Antonio Gramsci dikenal sebagai pemikir besar yang bahkan dianggap sebagai pemikir terbesar kedua setelah Karl Marx. Gramsci dikenal melalui terjemahan dari kumpulan catatan dari penjara yang dibukukan dengan judul Cucreni del Carcere atau Selection from the Prison Notebooks yang merupakan buku harian yang ditulis di penjara antara tahun 1929 dan tahun 1935.

Melalui karyanya tersebut ia mengenalkan antara lain konsep hegemony dimana ia menunjukkan hubungan antara kepemimpinan (direction) dan dominasi (dominance). Sebuah konsep yang kini begitu digandrungi oleh banyak kalangan untuk mempelajarinya, khususnya kalangan aktivis mahasiswa yang revolusioner.

Dalam konsep hegemony ini, Gramsci menyoroti akan pentingnya peranan intelektual  dalam masyarakat sipil dalam masa transisi menuju sosialisme pada saat itu. Gramsci mengungkapkan, intelektual bukan dicirikan oleh aktifitas berfikir intrinsik yang dimiliki oleh semua orang, namun oleh fungsi yang mereka jalankan. Ia melanjutkan, “kita bisa mengatakan bahwa semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual.”

Kemudian, Gramsci pun memperluas definisi kaum intelektual tersebut, yaitu, semua orang yang mempunyai fungsi sebagai organisator dalam semua lapisan masyarakat, dalam wilayah produksi sebagaimana dalam wilayah politik dan kebudayaan. Ia membuat perbedaan antara “intelektual organik” dan “intelektual tradisional”.

Menurutnya, intelektual tradisional merupakan kategori yang bisa dikenakan kepada figur intelektual menara gading yang melakukan kongsi dan aliansi dengan kaum penguasa. Karena itu, intelektual kelompok ini cenderung konservatif terhadap perubahan sosial.

Sebaliknya, kata Gramsci, intelektual organik merupakan kategori yang bisa dipakai untuk mendeskripsikan figur atau kelompok intelektual yang mendedikasikan dirinya untuk perjuangan menuju kebaikan kelompok sosial masyarakatnya. Kaum intelektual yang demikian ini sejatinya muncul secara alamiah dari dalam diri dan seiring dengan pergerakan masyarakat, bukan dipaksakan untuk merepresentasikan kepentingan masyarakatnya.

Ia berpendapat bahwa setiap kelas menciptakan satu atau lebih strata intelektual yang memberinya kesamaan dan kesadaran akan fungsi mereka sendiri bukan hanya dalam bidang ekonomi namun juga dalam bidang sosial politik. Intelektual tidak membentuk sebuah kelas namun setiap kelas mempunyai intelektualnya sendiri.

Berdasarkan pandangan Gramsci tentang intelektual di atas, lalu dimanakah posisi mbah Marijan di mata Gramsi? Pertanyaan ini sebetulnya sulit untuk di jawab, karena bagaimanapun juga, mbah Marijan berasal dari kaum proletar yang diangkat oleh Sultan HB IX sebagai kaum borjuis untuk menjadi abdi kesultanan Yogyakarta sebagai kuncen merapi.

Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa, dalam konteks ini, mbah Marijan dalam pandangan Gramsci adalah seorang intelektual tradisional yang berperan sebagai intelektual organik dari aristokrasi feodal. Mengapa demikian? Karena sebagai seorang abdi kesultanan, mbah Marijan adalah perangkat legalisasi kekuasaan dari aristokrasi feodal. Posisi mbah Marijan ditengah-tengah masyarakat otomatis adalah untuk memperkuat status quo pemerintahan kesultanan Yogyakarta yang saat itu di pimpin oleh Sultan HB IX.

Namun, ketika kesultanan Yogyakarta di perintah oleh Sultan HB X, mbah Marijan bertindak sebagaimana intelektual organik menjalankan fungsi intelektualnya dimasyarakat. Menjadi organiser bagi masyarakatnya untuk menjaga tradisi budaya yang mereka percayai selama bertahun-tahun. Sikap penentangannya terhadap instruksi untuk mengungsi dari pemerintah Indonesia maupun Sultan HB X merupakan bentuk perlawanan terhadap serangkaian tekanan atas tradisi masyarakat merapi yang percaya sepenuhnya terhadap budaya turun-temurun itu.

Artinya bahwa, pasca kepemimpinan kesultanan Yogyakarta beralih dari Sultan HB IX kepada Sultan HB X, di mata Antonio Gramsci, mbah Marijan telah menyebrangi jembatan kesadaran sebagai seorang intelektual tradisional pada masa Sultan HB IX, menjadi seorang intelektual organik pada masa Sultan HB X. Sampai akhir hayatnya, dengan menjaga prinsip kesetiannya atas amanah yang diberikan oleh Sultan HB IX kepadanya, mbah Marijan dikenal sebagai sosok intelektual organik dari klas proletar yang mampu mengorganisir penduduk dalam bingkai perasaan dan pemahaman yang menjadi pengetahuan bersama atas tradisi kebudayaan leluhur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar